Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

5/31/2008

Terima kasih IBU...,,,

Hari pertama taman kanak-kanak
Ia bergegas ke pintu
Melepaskan pelukan ibunya
Ia tak lagi perlu itu
Karena ia sudah besar sekarang
Terlalu besar untuk hal-hal seperti itu
Sebaliknya ia melambaikan salam
Berharap itu sudah cukup

Saat hari itu ia pulang sekolah
Sang ibu menanyakan kegiatannya
Ia memberinya secarik kertas
Bergambar matahari kuning besar
Gambarnya tak sempurna
Karena ia ceroboh sana-sini
Tapi sang ibu agaknya tak melihat
Atau agaknya tak peduli

Hari pertama SMP
Ia bergegas ke pintu
Berlari dari pelukan ibunya
Ia tak menginginkan hal itu lagi
Ia mengabaikan panggilannya
Saat ia bergegas menyusuri jalan
Di dekat perempatan
Tempat temannya berencana bertemu
Ia berharap ibu akan mengerti
Mengapa ia harus berjalan kesekolah
Diantar oleh ibunya kini
Akan tidak keren kelihatannya

Dan saat ia pulang sekolah
Sang ibu menanyakan kegiatannya
Ia menyerahkan beberapa kertas
Dengan silang lebih dari satu
Sang guru jelas menunjukkan
Jawaban salah disana-sini
Tapi ibunya agaknya tak melihat
Atau agaknya tak peduli

Hari pertama SMU
Ia bergegas keluar pintu
Melompat kekursi pengemudi
Ford-nya yang mengilap
Ia pergi tanpa sarapan
Ia pergi tanpa pamit
Tapi ia berbalik dan menoleh
Sebelum membelok
Ia melihat ibunya melambai dengan semangat
Saat ia menjauh
Ia membunyikan klaksonnya hanya sekali
Untuk mencerahkan hari ibunya
Ia melihat senyuman diwajah ibunya
Lalu ia melaju menghilang dari pandangan
Menuju dunia yang berbeda
Kehidupan baru yang menyenangkan

Dan saat wisudanya
Saat air mata bersinar dimata ibunya
Ia tahu sudah tiba waktunya
Untuk berpisah dengan ibunya
Karena ia akan pergi kuliah
Pergi menuju hari lebih baik
Tak ada lagi peraturan mengekang
Sendirian menemukan jalan

Kopor memenuhi bagasi Ford-nya
yang kotor dan usang
Ia tak sabar tiba di kampus
Memeriksa kamar asramanya
Sang ibu membuka pintu mobil
Dan menutupnya saat ia masuk
Lalu tersenyum bangga pada putranya
Seraya air mata menetes dari dagunya
Ia menjulurkan tangan melalui jendela yang terbuka
Mengucapkan selamat sukses dikampus
Lalu ditariknya anaknya mendekat
Dan melanggar aturan dilarang memeluk
Si anak merasa kebebasan menyapanya
Saat ia memasuki jalan tol
Akhirnya hidupnya hanya miliknya sendiri
Dan ia mengantisipasi takdir

Kehidupan kampus lebih menantang
Daripada yang dapat ia harapkan
Tak ada waktu menjawab surat
Yang sering dikirim ibunya
Ia sudah dewasa sekarang
Terlalu tua untuk hal-hal itu
Kunjungannya saat liburan
Sudah mesti cukup
Lagipula, ujian semester cepat menghadang
Tekanan terasa raksasa
Ia belajar hingga begadang
Keinginannya untuk lulus begitu kuat
Ia bertanya-tanya bagaimana ia berhasil
Bagaimana ia mengatasi
Bagaimana jika ia tak lulus?
Apakah masih akan ada harapan?

Seakan ia mendapat panggilan
Ia melaju di jalan tol
Dengan kecepatan penuh
Malam mulai larut
Ia membelok di kelokan
Yang sering dijelajahinya
Dan memasuki pintu terbuka
Rumah ibunya

Sang ibu duduk di meja
Bersama gambar dalam pigura
Kenangan dari masa lalu
Yang membawa suka duka
Sang ibu tidak perlu bertanya
Mengapa anaknya pulang dari kampus
Karena ia tahu jawabannya
Saat si anak melanggar aturan dilarang memeluk
Lengan melingkarinya erat
Mengintip gambar yang dibuatnya
Banyak pohon, cabang tidak sempurna
Dan matahari kuning yang besar
Sang ibu tersenyum penuh pengertian
Lalu ia pun berkata tegas
anakku, sejak dulu
dan selalu kau membanggakanku
lihatlah betapa jauh kau menempuh
dari anak kecil yang begitu berani
menuju taman kanak-kanak
tanganmu melambai
dan ditahun-tahun kau berbuat kesalahan
tapi anakku, ibu juga pernah salah,
sempurna itu mustahil dalam hidup
lakukanlah sebaik mungkin
dan jangan berharap lebih dari itu
karena hidup ini semestinya menyenangkan
kau hanya bisa menjalani satu kehidupan
lakukan apa yang terbaik bagimu, Nak

duduk dikamar asramanya
saat tekanan tampak terlalu banyak
dan segala yang ia perjuangkan
tampak begitu tak terjangkau
ia menatap gambar
matahari kuning besar
lalu ia teringat
betapa jauh ia telah menempuh
dari anak menjadi dewasa
melawan banyak rasa takut
melalui ujian dan cobaan
manahan banyak air mata
tahu bahwa sukses itu
bukan melewati setiap ujian
dan satu-satunya jalan gagal dalam hidup
adalah tidak melakukan yang terbaik
dan pelajaran terbesar yang didapatnya
yang tidak didapatnya dari sekolah...
bahwa tak apa-apa bagi orang dewasa
untuk melanggar aturan dilarang memeluk

4/14/2008

Detik-detik Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjelang sakratul maut

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap shahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua shahabat kala itu.Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.

Saat itu, seluruh shahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril.

Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi



Ya Rasulullah salam untuk Engkau dari ku
Ya Rasulullah aku tidak pantas bersanding dengan Engkau di surga.....
Tapi aku tidak akan kuat menahan panas api neraka
Aku hanya bisa MALU atas amal-amal ibadah ku
MALU sedalam-dalam nya MALU
Tidak punya malu jika aku mengharap syafa'at dari engkau
Tapi hanya itu yang bisa ku lakukan
Aku hanya bisa mengharap syafa'at engkau



Salam sejahtera untuk engkau YA RASULULLAH

dari ku :

Hamba Allah yang berlumur DOSA